Apakah pemerintah Indonesia harus memutuskan hubungan dengan AS karena dukungannya terhadap agresi Israel?

yang lain demo dibayar, kenapa gw nggak ?!

⊆ 5/18/2009 02:38:00 PM by empiris network | . | ˜ 3 komentar »


Atmosfer sosio-politik Indonesia pasca Orde Baru dipenuhi oleh --salah satunya eksplosifitas aksi-aksi unjuk rasa; profil pernyataan pendapat publik paling nyata, meski non-konvensional. Aksi-aksi demonstrasi dilakukan, terutama ditujukan untuk memprotes kebijakan pemerintah yang tidak berpihak kepada rakyat. Tapi aksi demonstrasi juga menampakkan wajah Janusnya; di satu sisi kita dapat menyampaikan aspirasi dan tuntutan sesuai keinginan kita; di sisi yang lain sesungguhnya ia merupakan media yang potensial menjadi alat tunggangan pihak oportunis, kepentingan-kepentingan “manusia selfish”. Atau lain saat pernahkah para aktivis demonstran berpikir tentang sejauhmana eksesifitas (daya-rasa) dari aksi-aksi protes massal itu dapat dirasakan oleh rakyat secara kolektif. Zonder “eksesfiitas” itu, sangat mungkin aksi-aksi yang biasa kita lakukan --seperti long march dari titik kumpul menuju simbol-simbol kekuasaan, atau “karnaval” kendaraan mengelilingi kota hanya sebagai ritus sekelompok “midlle class” (baca: mahasiswa) yang menyatakan diri representasi rakyat. Demonstrasi adalah bahasa atribusi kegelisihan orang-orang, yang dipenuhi oleh brosur-brosur, orasi-orasi provokatif yang memukau dan sentimentil, ataupun dengan hapenning art; berharap di-blow up media massa [?]

Ironis [!], ketika dalam aksi dengan lantang kita meneriakan yel-yel “hidup rakyat” yang sloganistik-- tapi rakyat justru tidak mengetahui kenapa dan untuk apa kita beraksi ? Sadar atau tidak, para demonstran menciptakan dikotomi ! yang justru diarahkan untuk meminimalisir dikotomi. Padahal, keterlibatan rakyat dalam aksi dengan mahasiswa (sebagai pelopor [?]) adalah wajib a'in, karena dengan kekuatan itulah aksi akan menjadi alat perlawanan yang masif dan revolusioner.

Cobalah sesekali atau bahkan berkali-kali kita melakukan re-trospeksi [atau anggaplah “re-kreasi”] apakah [1] aksi-aksi yang kita lakukan telah memberikan konstribusi bagi perubahan nasib rakyat, atau [2] hanya merupakan canda segelintir orang [yang merasa lidah rakyat, penyampai vox dei] di teras-teras wacana, atau juga [3] sekedar memenuhi kewajiban proseduralis atau ruwat tradisi bagi orang yang kecewa pada penguasa, lalu dihadang blokade polisi plus serdadu --yang menyimpan kegerahan laten terhadap massa demonstrasi dan kemudian chaos sebagai ending ceremony. Atau bukalah kembali flash back-- catatan-catatan peristiwa demonstrasi [yang masih tersimpan di benak] ketika menyerukan untuk aksi di basis kampus; mayoritas kawan-kawan mahasiswa telah terjangkit demoralisasi, entah akibat kejenuhan pertarungan politik yang tak kian henti, atau menghindari sinar matahari [hedon kali ye ...], sehingga mahasiswa enggan ikut aksi.

ALIANSI TAKTIS ? mungkin-mungkin saja, tapi itu hanya jika kelompok aktivis bertemu 'musuh bersama' common enemy--, lalu dengan tergopoh-gopoh para “konseptor”, “setting maker” dan “play mover” merumuskan common interest dan common goal-nya (baca: bagi-bagi “kue”), dan setelah itu cair kembali. Jika benar demikian, [jangan-jangan …] itu disebabkan selama ini para aktivis lebih gandrung pada isu-isu yang elite-centris tinimbang yang people-centris [boleh juga ummat-centris, atau proletariat-centris, etc.], lalu pis holopis kuntul baris rame-rame turun ke jalan base on “tugas sosial”, “tradisi sejarah”, “solidaritas”, tas, tas, tas … [yang kegenitan !]. Adalah sangat wajar, gerakan mahasiswa kontra-pemerintah yang tidak disertai oleh summum bonum dan tidak affirmative action, hanya akan menghasilkan; “gerakan selebritis”, “demonstrans selebritis”, “aktivis selebritis”, [… lalu menjadi key note speaker dalam Republik Mimpi …] Dan menjadi penghias serta pemanis setia halaman-halaman koran dan televisi. Kalau begitu, jika tidak lagi ingin gerakan-gerakan ini menjadi “sampah” dari tradisi masyarakat urban, maka kita memerlukan satu bentuk aliansi aksi [komite, majelis, atau apapun sebutannya ..] yang melibatkan seluruh komponen dan unsur-unsur massa rakyat, tapi bagaimana bentuknya ? …lo’ punya usul ???!




3 Responses to yang lain demo dibayar, kenapa gw nggak ?!

  1. Admin Jku Online Says:
    "ALIANSI TAKTIS ? mungkin-mungkin saja, tapi itu hanya jika kelompok aktivis bertemu 'musuh bersama' common enemy--, lalu dengan tergopoh-gopoh para “konseptor”, “setting maker” dan “play mover” merumuskan common interest dan common goal-nya (baca: bagi-bagi “kue”), dan setelah itu cair kembali. Jika benar demikian, [jangan-jangan …] itu disebabkan selama ini para aktivis lebih gandrung pada isu-isu yang elite-centris tinimbang yang people-centris [boleh juga ummat-centris, atau proletariat-centris, etc.], lalu pis holopis kuntul baris rame-rame turun ke jalan base on “tugas sosial”, “tradisi sejarah”, “solidaritas”, tas, tas, tas … [yang kegenitan !].." >> mungkin ada baiknya antum jelaskan spt apa itu issue yg 'elit-sentris' dan spt apa issue yg 'ummat-sentris',, dan beberapa istilah lain yg jujur saja terlalu canggih utk bisa saya (dan juga mungkin yg lainnya) cerna..
    ada bagusnya antum singgung juga konteks kegelisahan antum ini agar lebih jelas subjek diskusi yg antum ajukan..

    thanx for sharing,, :)
  2. EMPIRIS Says:
    elit-sentris, seperti pilpres atau dalam lingkup vertikal. Tapi, seperti sulit & mahalnya pupuk bagi para petani hampir ga pernah ke-blowup atau tersentuh. Apalagi, memikirkan bagaimana para petani memasarkan hasil buminya agar sesuai dengan ongkos produksi, atau bagaimana para buruh tetap menjadi objek para pemilik modal, hanya sebagian yang tertarik, itupun kawan-kawan yang di klaim "kiri". Hal ini cuma contoh dari sesaknya fenomena penindasan di negeri ini. Jadi hampir sulit memilah isunya(?!)

    Pada situasi ini padahal memerlukan suatu gerakan yang riil dan langsung terasa di Massa Rakyat. Seperti desa binaan yang kini (empiris) bangun di beberapa daerah--punteun ana ga bisa beritahu lokasinya.

    Bro...ngobrolnya ngeunahan di darat euy... Simkuring geus ngobrol jeung Zacky Cianjur minggu kamari di Cianjur, sekarang lagi cari waktu copy darat lagi. Entar gw kabarin deh copy daratnya!

    Punteun ga memuaskan !!!
  3. Admin Jku Online Says:
    sip,, anytime bro,, hayu lah :)

Poskan Komentar

Guidelines:

Blog ini didedikasikan untuk persaudaraan muslim dan dukungan terhadap para pejuang Islam, karena itu, silahkan sampaikan kritik, saran dan tanggapan anda dengan cara yang baik menurut ukuran yang bisa diterima secara umum. Komentar-komentar yang bernada arogan atau berisi serangan, celaan serta sarkasme terhadap Islam dan kaum muslim tidak bisa diterima dan akan dihapus.

Operations, Explanations, and more ... Download Jihadi Videos!

Expand Your Mind ... Broaden Your Horizon ...
A Message from the mujahed Adam Yehiye Gadahn - Azzam : “Let’s countinue our Jihad and Sacrifice ”
Media Al Ansar : Penghancuran Hummer Garda Nasional Murtad di Diyala
Al-Tawbah :: Terjemah Pesan Audio Amirul Mukminin Abu Umar Al Baghdadi: Para Agen Pendusta
Markas anshar dan nidaul jihad afghan : HUJAN BOM
Media Al-Fursan : Majalan Jihad online Issue 2 [ Obamaturk: The Secular Phenomenon ]